Prodi HES Undang Dr. Azhar Ibrahim Alwee Sebagai Pembicara dalam Public Lecture.

Dr. Azhar Ibrahim Alwee (Kanan) sedangan menyampaikan materi
Kamis (20/07) Prodi HES mendatangkan pakar dalam bidang Studi Malay-Indonesian World atau Nusantara sebagai pembicara dalam acara Public Lecture dengan tema Towards an Autonomous Islamic Studies for The Malay-Indonesian World. Acara ini bertempat di ruang Teknoklas Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Hashfi Luthfi, M.H sebagai ketua panitia acara menyampaikan bahwa mahasiswa HES harus bisa melihat keadaan akademik di luar agar bisa memacu gairah belajar mereka. acara ini juga sebagai media informasi bagi para dosen dan mahasiswa terkait kajian-kajian Islam di Asia Tenggara.
Dr. Azhar Ibrahim Alwee merupakan dosen senior dan peneliti di National University of Singapura (NUS), banyak karya-karyanya telah terpublikasikan dan banyak menjadi rujukan oleh para peneliti lainnya. Disertasinya berfokus pada humanisme dan intelektualisme dalam kesusastraan Melayu dan tesis MA-nya tentang studi orientasi keagamaan yang tercermin dalam masyarakat feodal Melayu dan berlanjut hingga saat ini. Studinya saat ini berfokus pada teologi sosial di kalangan Muslim Asia Tenggara, dan teologi dialog dalam masyarakat Melayu-Indonesia.
Dr. Azhar juga mengungkapkan kepada para mahasiswa HES bahwa kalian beruntung kuliah di sini. Karena tidak setiap universitas atau bahkan di universitas top dunia kebanyakan para dosen sibuk meneliti dan membiarkan mahasiswanya untuk belajar sendiri.
“Anda sebagai mahasiswa harusnya bersyukur, karena bisa langsung dibimbing setiap minggu oleh dosen-dosen yang berkompeten. Di luar sana di kampus top dunia banyak mahasiswa yang harus belajar mandiri bahkan untuk ketemu dosen saja susah”.
Lebih lanjut menurutnya, kajian keislaman di UIN sudah sangat maju dan berkembang. ada dua kampus yang menjadi rujukan untuk belajar kajian Islam, yaitu UIN Yogyakarta (UIN Sunan Kalijaga) dan UIN Ciputat (UIN Syarif Hidayatullah). Kedua kampus tersebut merupakan fondasi dalam belajar Islamic Studies, terlebih di Jogja ada Prof. Amin Abdullah dengan Integrasi-Interkoneksi ilmunya.[] (ua/Tim)