Jalan Meraih Kesuksesan

Perjalanan hidup setiap manusia tidak pernah ada yang tahu, tetapi manusia harus berusaha untuk mencapai sesuatu yang diharapkan ataupun yang diimpikan. Manusia harus mempunyai mimpi yang positif dan rasional. Dengan memiliki mimpi, akan memunculkan motivasi untuk mencapainya dan akan terbentuk tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bayangkan jika kita hidup tanpa tujuan, ibaratnya kita berjalan tanpa tahu mau kemana arah tujuan, sehingga kita hanya berjalan tanpa arah, ataupun hanya berputar-putar tanpa hasil.

Di dalam menjalani perjalanan hidup, jika ingin sukses, maka kita harus mampu memenej diri kita sendiri. Memang bukan pekerjaan yang mudah, tetapi harus dilakukan, membiasakan diri dengan kebiasaan yang baik. Manusia hidup harus mau belajar dalam banyak hal, supaya kita mengetahui perkembangan di lingkungan kita. Belajar bisa dari literatur, lingkungan riil, berita dan apapun yang dirasa perlu, termasuk di dalamnya belajar untuk lebih mendalami tuntunan agama, disertai pengaplikasiannya apa yang sudah dipelajari. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik daripada hari ini.

Belajar adalah kata yang mudah diucapkan, namun tidak mudah untuk dilaksanakan. Belajar apapun, manfaatnya sangat besar, termasuk belajar untuk mengoreksi diri sendiri. Tidak semua orang ‘mau’ mengoreksi dirinya sendiri. Kecenderungan yang umum adalah mengoreksi orang lain. Ini merupakan suatu kebiasan yang kurang baik, jika kita tidak mau berubah. Artinya untuk sukses kita harus berani melihat diri sendiri dan melihat keberhasilan orang lain. Ini sudah merupakan cara belajar yang sederhana dan harus bisa dilakukan, agar menjadi orang sukses.

Pengertian sukses sangat beragam, sehingga setiap orang dimungkinkan untuk mendifinisikan sukses sesuai standar kemampuan masing-masing. Untuk bisa sukses harus mampu memenej diri sendiri dan kemudian memenej orang lain kalau kita ingin bergerak dalam organisasi. Organisasi bisnis ataupun sosial pada dasarnya di dalam pengelolaan hampir sama. Tekanan utamanya pada tujuan yang akan dicapai, hanya saja konsekuensinya strategi yang dilakukan akan berbeda. Bisnis mengharapkan keuntungan, sedangkan organisasi sosial lebih menekankan pada kemanusiaan (tolong-menolong), menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Memenej diri sendiri harus punya arah tujuan jelas, agar langkah-langkah yang akan ditempuh bisa direncanakan terlebih dahulu. Tidak selalu tujuan dapat dicapai dengan mudah. Bila tujuan awal yang ingin kita capai gagal, maka perlu dilakukan revisi tujuan dengan cepat. Keberhasilan di sisi lain yang tidak diduga kadang kita dapatkan, yang memiliki standar sama, namun berbeda kualitas ataupun prestisenya. Misalnya, ingin kuliah di UGM, diterimanya di PTS. Kita harus menganggap kegagalan tersebut sebagai cambuk guna mendapatkan sesuatu yang lain. Sebagai manusia, kita tidak boleh berputus asa menghadapi rintangan di depan langkah-langkah kita. Alternatif lain yang mungkin bisa membawa kita ke dalam kesuksesan, harus dicari dengan usaha keras. Sangat mungkin alternatif lain tersebut tidak sejalan dengan tujuan pertama. Sebagai contoh, mungkin dahulu kita pernah memiliki keinginan untuk masuk ke suatu Perguruan Tinggi tertentu, tetapi tidak diterima seperti harapan. Kemudian kita mendaftar di Perguruan Tinggi yang kebetulan tanpa ada ‘niat yang kuat’, dan kebetulan pula bisa diterima. Di beberapa beberapa perguruan tinggi lain yang juga didaftari hasilnya sama, yaitu ditolak. Makna dari semua proses yang sudah dilalui adalah tidak ada pilihan lain. Kita mencoba masuk ke Fakultas di Perguruan Tinggi tersebut untuk mendapatkan pengalaman dan mengisi waktu tunggu untuk mencoba di tahun yang akan datang. Keputusan ini harus diambil dari pada jadi pengangguran tanpa status, akhirnya kuliah di Fakultas tersebut dengan berat hati. Tahun berikutnya, mencoba perbaikan nasib dengan usaha (belajar) yang lebih baik agar bisa diterima di Fakultas dan Perguruan Tinggi yang diinginkan. Kebetulan usaha tahun kedua ini ternyata hasilnya nihil alias gagal. Jika hal ini terjadi pada diri kita, maka kita harus memandang bahwa itu adalah salah satu dari takdir Allah SWT dan kita memang harus melalui jalan pilihan yang diberikan oleh Allah SWT. Jangan sampai kita menyesali apa yang terjadi, karena Allah SWT pasti punya rencana yang lebih baik dari pada rencana kita. Yakinlah bahwa ada hikmah yang luar biasa nantinya. Perjalanan tersebut memang kurang menyenangkan bagi yang mengalami, akan tetapi kesabaran dan keikhlasan pasti ada timbal baliknya. Bila kita meratapi kegagalan itu secara berlebihan, bisa jadi kita terperosok pada jurang tidak percaya pada takdir Allah. Bagaimana menyikapi hal ini? Jawabnya tergantung pada diri kita sendiri.

Pertanyaaan menarik adalah perjalanan hidup kita sudah ada takdirnya, mengapa kita disarankan untuk membuat planning dalam rangka mencapai tujuan. Jawabannya sangat sederhana, karena kita tidak pernah mengetahui takdir yang diberikan oleh Allah SWT. Konsekuensi dari hal tersebut manusia wajib berusaha, Hasil apapun yang nantinya diberikan oleh Allah SWT kita terima dengan senang hati. Rizki yang diberikan oleh Allah SWT, harus kita syukuri apapun hasilnya. Ingat rizki tidak selalu berujud uang, diberi sehat juga rizki yang diberikan oleh Allah. Uang hanyalah salah satu jenis rizki. Rizki ada yang harus dijemput (diusahakan) tetapi ada juga yang diberikan oleh Allah SWT, karena perbuatan kita yang pernah kita lakukan entah kapan waktunya. Karena allah akan memberikan rizkiNya dari berbagai penjuru yang mungkin tidak kita duga.

Jalan yang sudah didapat (ditunjukkan oleh Allah SWT) tidak boleh disia-siakan. Awali perjalanan hidup dengan apa yang diberikan oleh Allah SWT. Tetap bersyukur, merupakan cara tepat yang harus dilakukan oleh setiap umatNya. Jika hal tersebut terjadi dalam hal apapun, maka mulailah kembali dengan cara menentukan ‘tujuan baru’ atau bahkan mungkin ‘mimpi baru’ setelah kita mendapatkan awalan yang tidak sesuai harapan. Untuk bisa mencapai tujuan baru tersebut, kita harus punya planning atau rencana yang dirinci secara jelas, baik dalam hal besaran pencapaian ataupun waktunya untuk pencapaian target-target atau tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang harus dimulai dari keberhasilan mencapai tujuan jangka pendek yang diyakini bisa dicapai sesuai kemampuan yang ada. Di dalam pembuatan planning harus rasional dan terukur.

Membuat planning adalah pekerjaan mudah, tetapi untuk bisa berhasil dengan baik, planning harus rasional dan dibatasi oleh waktu yang cukup dinamis. Artinya kita tidak bisa memaksakan kehendak jika situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuk dilakukan. Misalnya: Kita sudah merencanakan untuk mengerjakan planning pertama pada waktu yang sudah ditentukan, ternyata cuaca tidak bagus, kita diberi sakit (demam), sehingga tidak bisa mengerjakan. Untuk menghadapi rintangan ini, sebaiknya diterima dengan lapang dada, mengingat bahwa sakit dan kesembuhan semua ditentukan oleh Allah SWT. Pada kondisi seperti ini, maka kita harus menengok ke belakang sedikit. Apakah kita memiliki rencana kedua? Bila rencana ini sudah kita siapkan sejak awal, maka begitu kita sembuh kita akan mengerjakan rencana kedua tersebut. Bila kita ternyata tidak memiliki rencana kedua, maka kita harus memikirkan solusinya. Jangan menyerah menghadapi ujian-ujian yang harus dihadapi. Hal ini berarti kita harus membuat rencana baru untuk menggantikan rencana lama yang tidak bisa dikerjakan.

Tingkat kesulitan selalu ada dengan tingkatan berbeda yang harus dihadapi oleh semua manusia, meskipun demikian manusia harus tetap berusaha mencapai tujuannya. Semakin tinggi tingkat kesulitan yang kita hadapi, insyaAllah akan diberi hasil yang lebih baik oleh Allah SWT. Dari uraian di atas terlihat bahwa untuk mencapai tujuan (impian) maka harus membuat planning yang terarah, terukur dan rasional. Tentunya doa dan ibadah sesuai tuntunan menjadi motivator bahwa Allah SWT akan memberi kemudahan dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Jika semua usaha positip sudah kita lakukan, yakinkan pada diri kita bahwa apapun hasilnya semua atas kehendakNYA.

Simpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah mari mulailah membuat planning, meskipun kemungkinan ada kendala, tetapi hidup tanpa planning dalam mencapai tujuan hasilnya akan lebih buruk. Manusia wajib memiliki rencana, agar jalannya lebih lancar. Semua keberhasilan ataupun ketidak berhasilan akan ditentukan oleh Allah SWT, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, apalagi besuk dan seterusnya.

Pada saat membuat planning, kita tidak boleh menggunakan konsep bahwa takdir sudah ditentukan oleh Allah. Apapun yang kita lakukan tidak ada gunanya karena apa yang akan terjadi sudah ditentukan oleh Allah dalam bentuk takdir. Memang benar takdir itu ada, tapi kita tidak tahu takdir kita seperti apa. QS Lukman ayat: 34 menyebutkan: وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدً yang terjemahan bebasnya adalah: Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Oleh karena itu, kita harus berusaha sekuat tenaga dan mengambil asumsi bahwa takdir Allah adalah sesuai dengan impian kita. Allah adalah Maha segalanya, termasuk di dalamnya Allah bisa mengubah takdir yang sudah tertulis, bila Allah berkenan. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 186: اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ yang arti bebasnya: Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. QS Ghafir 60: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُوۡنِىۡۤ اَسۡتَجِبۡ لَـكُمۡؕ yang arti bebasnya: Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Ketetapan dalam Al-Qur’an ini menunjukkan bahwa kita harus berdoa dan berusaha. Perencanaan adalah salah satu bentuk doa dan usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Berdasar paparan di atas, marilah kita bertanya kepada kita sendiri: Sudahkan kita menyusun planning untuk mencapai tujuan jangka panjang? Berdasarkan planning jangka panjang yang kita susun, kemudian kita pecah menjadi beberapa planning jangka pendek. Perencanaan jangka pendek merupakan rencana yang disusun untuk mencapai tujuan jangka pendek. Sedangkan tujuan jangka pendek adalah bagian dari tujuan jangka panjang. Mari kita mulai dari membuat planning jangka pendek terlebih dahulu dan dipraktikkan.

Kondisi akan berbeda jika tujuan yang akan dicapai adalah tujuan bersama (organisasi) bukan individu. Organisasi didirikan untuk usaha tertentu baik bersifat bisnis maupun sosial yang dikerjakan oleh beberapa orang untuk mencapai tujuan. Tujuan bisa jangka pendek, jangka menengah ataupun jangka panjang. Pada awal pendirian organisasi bisnis perlu mengetahui besaran kemampuan modal yang akan digunakan, ada tidaknya pesaing serta memahami lingkup kerjanya. Jika hal ini sudah dipahami dengan baik, baru membuat planning secara rinci untuk tujuan jangka pendeknya. Apabila organisasi bisnis sudah bisa berjalan dengan lancar, tentunya diperlukan planning untuk pengembangan usahanya. Untuk bisa sukses perlu tahapan-tahapan yang harus dilalui. Cara kerja individu dan berkelompok (organisasi) tentunya sangat berbeda, karena memiliki tanggungjawab terhadap orang-orang yang diajak untuk bekerja sama supaya bisa bertahan.

Di dalam organisasi sosial, pada dasarnya sama yaitu planning dibuat untuk mencapai tyujuan. Perbedaannya dengan organisasi bisnis adalah tidak mengutamakan keuntungan, namun lebih banyak pada kemanusiaan (menolong orang). Untuk organisasi sosial perencanaan pada umumnya berhubungan dengan berapa target orang yang akan dibantu, dan beberapa kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan bidang garapnya.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah dalam semua kegiatan baik untuk individu maupun kelompok, harus tujuannya jelas, dibuat rencana secara rinci, sesuai data yang dimilikinya. Diawali dengan planning yang rasional sehingga bisa dikerjakan tanpa kesulitan yang berarti ataupun penyimpangan yang tidak diharapkan. Untuk bisa membuat planning harus terlebih dahulu menguasai lingkup kerjanya serta mengukur kemampuannya. Planning memang tidak selalu berhasil seperti yang diharapkan, namun semua pekerjaan hasilnya akan lebih baik, apabila diawali dengan planning, dari pada tanpa planning. Dengan kata lain lebih banyak manfaatnya dari pada madhlorotnya.

Oleh: Widyarini

widyarini@uin-suka.ac.id

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler