Tips Meneliti Bagi Peneliti Pemula (Mahasiswa)

Mahasiswa pada umumnya harus mengakhiri masa studi dengan menulis karya ilmiah dari hasil penelitian. Keharusan ini sangatlah wajar, untuk melatih mahasiswa supaya mampu melakukan penulisan karya ilmiah, dengan dasar teori yang benar. Artinya, suatu karya ilmiah tidak boleh asal tulis, namun memiliki dasar yang kuat sehingga bisa dipertanggung jawabkan. Sebuah karya ilmiah sering dikutip oleh orang lain, baik untuk penelitian ‘baru’ maupun untuk memperkuat hasil temuan yang ‘mungkin’ tidak sengaja, guna memperkuat argumentasinya. Jika karya ilmiah yang dikutip secara metodologi tidak benar, tentu saja akan memberikan informasi yang menyesatkan. Selain itu, problem yang sering muncul adalah penulisan karya ilmiah dengan menggunakan dasar metodologi secara benar, namun aplikasinya kurang ‘pas’. Hal ini akan berdampak keakuratannya dipertanyakan. Contohnya adalah pengambilan data dengan kuesioner, jika menggunakan kuesioner tertutup namun wawasan si peneliti tidak luas, sangat mungkin alternatif jawabannya tidak lengkap dan pilihan jawaban menjadi kurang tepat. Untuk itu, seorang peneliti harus memiliki wawasan yang luas atas topik yang dipilihnya. Kata kuncinya adalah: banyak membaca dari berbagai sumber untuk topik yang dibahas.

Saat ini dari hasil pantauan pembimbingan skripsi ataupun tesis, banyak mahasiswa Strata satu maupun Strata dua, cederung kesulitan untuk mendapatkan ide judul penelitian. Dampaknya adalah terdapat potensi pemilihan judul tanpa berpikir dari segi manfaat, pun terkadang topik yang dipilih tidak sesuai dengan bidang studi ataupun kurang mengusai pilihan topik. Yang dilakukan mahasiswa lebih mengarah pada “pokoknya mengajukan judul penelitian”, karena ‘malu’ teman-temannya sudah mulai meneliti. Mahasiswa tersebut tidak berpikir dampak dari apa yang harus dikerjakan nanti pada saat menganalisis. Mungkin mahasiswa berharap akan dibantu oleh pembimbingnya. Mahasiswa kurang memahami tugas pembimbing, yaitu mengarahkan atas apa yang ditulisnya, sedangkan isi dari tulisan itu sendiri tentu saja menjadi tanggung jawab peneliti. Pembimbing akan mengarahkan sesuai alur yang seharusnya. Masalah akan muncul apabila mahasiswa tidak menguasai apa yang seharusnya dikerjakan, sesuai arahan pembimbingnya. Akibatnya hasil penelitian menjadi ‘tidak berkualitas’.

Membuat judul penelitian sebaiknya menarik untuk dibaca oleh orang lain, memang tidak mudah, karena harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain: topik sebaiknya baru trending; belum banyak diteliti sehingga ada kebaruannya, topik tidak sekedar pengulangan (replikasi) dengan obyek berbeda, serta topik rasional. Untuk bisa mendapatkan topik dengan kriteria tersebut, mahasiswa perlu memiliki wawasan luas. Mahasiswa harus banyak membaca, baik dalam bentuk berita, literatur, dari jurnal-jurnal berkualitas (Jurnal Scopus, Sinta, jurnal internasional dan semacamnya), maupun dari Desertasi ataupun Tesis yang baik. Untuk mencapai kondisi tersebut, diperlukan waktu yang cukup lama, sehingga sangat disarankan sejak menjadi mahasiswa sudah mulai banyak membaca. Selain mendapatkan wawasan tentang bagaimana menulis karya ilmiah, secara tidak langsung juga mempelajari bagaimana menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kepekaan ini secara tidak langsung akan didapat oleh pembaca, sehingga komentar setelah membaca suatu karya ilmiah kadang diawali dengan komentar tentang:

1). Bahasa. Misalnya: bahasanya membingungkan, flip-flop (bolak-balik alurnya, maksudnya alurnya tidak sejalan), alur pada antar alinea lompat-lompat, sering mengulang-ulang hal yang sama, sehingga membosankan, dll.

2). Metodologi kurang tepat (salah menggunakan pendekatan). Misalnya: seharusnya menggunakan metode kuantitatif yang digunakan kualitatif dan sebaliknya.

3). Logika pikirnya tidak tepat, Misalnya: salah memilih rumus untuk analisis kasus.

4). Salah data (judulnya Praktik, isinya diambilkan dari contoh teori/buku) atau kasus di lapangan tidak ditemukan, sehingga menggunakan asumsi.

5). Salah di dalam menganalisis data yang ditemukan. Jika kesalahan-kesalahan tersebut terlihat di dalam hasil penelitian, baik di skripsi, tesis, jurnal ataupun sumber lain, sebaiknya tidak dikutip. Dengan kata lain, cermati terlebih dahulu karya ilmiah yang akan dikutip. Kebiasaan membaca karya ilmiah akan membuat mahasiswa kritis melihat kesalahan-kesalahan tersebut.

Kebingungan mahasiswa pada umumnya karena melihat temannya sudah mulai meneliti, sementara mahasiswa tersebut belum mendapatkan judul seperti yang diinginkannya. Beberapa usulan judul ke calon pembimbing beberapa kali ditolak. Penolakan ini pasti ada alasannya yang cukup kuat, bukan karena calon pembimbing mempersulit.

Beberapa penyebab penolakan judul yang dilakukan oleh calon pembimbing, antara lain:

  1. Judul tidak rasional
  2. Judul tidak tepat dengan bidang studi yang dipelajarinya.
  3. Judul sudah banyak penulisnya, sehingga sudah tidak menarik lagi untuk dibaca atau sudah usang/out of date. Artinya orang sudah tidak memikirkan hal tersebut lagi.
  4. Judul yang dipilih, wawasan keilmuannya belum didapat, jika belajar sendiri perlu waktu yang panjang.
  5. Judul sangat sederhana tidak sesuai dengan level pendidikannya. Misal: memilih judul tesis, tetapi sederhana sekali seharusnya untuk level skripsi. Dimungkinkan juga judul terlalu tinggi levelnya, sehingga dikhawatirkan analisisnya tidak seperti yang seharusnya.
  6. Judul bagus dan sudah diajukan, namun ternyata mahasiswa pada saat ditanya oleh calon pembimbing, tidak menguasai ilmunya.
  7. Dll.

Melakukan penelitian memang tidak semudah yang dibayangkan oleh mahasiswa, namun mahasiswa akan merasa terbantu, jika mengetahui caranya dan tidak mudah putus asa. Pada umumnya mahasiawa sudah ‘ketakutan’ terlebih dahulu pada saat akan memilih judul. Memang membuat judul tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun kalau kita sudah biasa membaca banyak jurnal, ataupun karya ilmiah lainnya hal ini akan sangat membantu.

Mengacu pada alasan-alasan tersebut di atas, ada beberapa tips di dalam memilih judul yang akan dipilih, antara lain:

  1. Pilih topik yang anda kuasai ilmunya, supaya pada saat melakukan penelitian, tidak perlu banyak sekali yang harus dipelajari.
  2. Memilih topik yang dikuasai akan membuat si peneliti senang mengerjakannya, karena ‘rasa ingin tahunya’ bisa terjawab. Sehingga si peneliti tidak mudah putus asa untuk mengembangkan temuan-temuannya.
  3. Jika kesulitan mendapatkan judul, silahkan browsing di beberapa jurnal yang berkualitas. Jika sudah menemukan topik yang dikuasai ilmunya, cobalah carilah beberapa topik semacam, untuk dipelajari. Dengan demikian anda sudah menemukan gambaran perkiraan seperti apa penelitian yang akan dilakukan.

Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam memilih judul adalah:

  1. Mahasiswa tidak menguasai ilmunya dengan baik, sehingga asal tulis saja. Solusinya: satu semester sebelum mengambil skripsi, sudah mempersiapkan diri untuk banyak membaca literatur, jurnal maupun tesis, desertasi. Usahakan membaca karya orang lain pada level yang lebih tinggi, terutama pada saat akan membuat skripsi. Misalnya: tesis, disertasi, jurnal yang berkualitas/terakreditasi. Jangan menggunakan acuan skripsi lain, jika tidak terpaksa. Pada level skripsi posisi mahasiswa adalah proses belajar meneliti, kadang masih banyak kesalahan. Sehingga kurang tepat digunakan sebagai acuan menulis karya ilmiah. Tesis juga tidak selalu analisisnya benar, namun harapannya, tingkatan yang lebih tinggi akan mampu memberikan karya ilmiah yang lebih baik. Untuk itu, di dalam memilih tulisan yang akan digunakan acuan harus menggunakan logika. Logika nalar dengan acuan metodologi yang tepat, maupun pola pikir dalam tulisan tersebut. Contoh acuan yang bisa digunakan untuk menilai antara lain: sistematika penulisannya, penggunaan Bahasa Indonesia secara baik dan benar, sumber-sumber kutipan yang digunakan oleh penulis berkualitas, kualitas literatur yang digunakan (dapat dilihat dari sumber kutipan), cek betul atau tidaknya sumber kutipan tersebut (kadang asal tulis), apakah analisis sudah mampu menjawab rumusan masalah?
  2. Judul sudah sering sekali diteliti, sehingga kurang menarik bagi pembacanya.
  3. Judul tidak harus tampil beda, namun punya nilai ‘bermanfaat’ bagi para pembacanya ataupun perusahaan/Lembaga sejenis.

Hal-hal yang harus dihindari oleh peneliti

  1. Mahasiswa mengutip dari karya orang lain, tanpa cros cek dengan sumber asli dari tulisan yang dikutip. Kutipan dari kutipan tidak disarankan, kecuali memang kesulitan menemukan sumber tulisan aslinya. Pengutip pertama kadang salah di dalam mengutip, bahkan kesalahan dilakukan dalam mensarikan bacaan dengan menggunakan Bahasa sendiri (beda persepsi).
  2. Terlalu banyak kutipan, namun tidak disebutkan sumbernya, agar tidak dapat dilacak. Akibatnya pada saat cek tingkat plagiasinya, diperoleh hasil prosentase yang tinggi. Hal ini harus dihindari, supaya tidak menjadi plagiator. Perlu diketahui bahwa jika mahasiswa menulis skripsi/tesis dan terbukti sebagai plagiator (dibuktikan oleh tim khusus yang dibentuk oleh Lembaga Pendidikan Tinggi), maka kelulusannya bisa dibatalkan. Mengutip pada dasarnya diperbolehkan, namun mengutip sebaiknya seminimal mungkin untuk hal-hal yang memang diperlukan.
  3. Arah rumusan masalah tidak jelas, sehingga di dalam analisisnya kebingungan sendiri. Rumusan masalah seharusnya rinci, supaya memudahkan di dalam penganalisaan.
  4. Teori yang digunakan kurang tepat, benar tetapi tidak pas. Sehingga analisisnya menjadi bias atau bersifat sangat umum, sehingga kurang bermanfaat.
  5. Ketidak tepatan metodologi yang digunakan.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah: ‘Jika mahasiswa akan menulis karya ilmiah, harus banyak membaca jurnal, literatur, berita-berita, karya ilmiah orang lain dengan topik yang sama, yang disukai’. Topik yang disukai dan dikuasai akan sangat membantu mempercepat penelitian yang dilakukan.

Widyarini

widyarini@uin-suka.ac.id

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler